Agak kaget ketika membaca sebuah judul pada Koran Nasional di halaman pertama: “Novel Perdamaian untuk Obama”. Yang ada di pikiran gw Cuma, “hah, emang dia udah ngelakuin apaan, kok bisa langsung dapet nobel perdamaian? Dia bukannya Cuma diplomat yg handal, kekuatan diplomasinya sangat dominan, sehingga bisa mempengaruhi banyak orang, padahal orang-orang juga belum mengenal dia lebih dalam.”
Well, ternyata bukan Cuma gw doang yg berpikiran seperti itu. Berikut gw rangkumkan beberapa komentar beberapa tokoh yg skeptis terhadap terpilihnya Presiden dari negara adikuasa tersebut (gw tulis dari Kompas & Republika):
- “Obama masih harus menempuh sebuah perjalanan panjang dan banyak pekerjaan harus dilakukan sebelum ia layak mendapat seubah penghargaan.” – Sami Abu Zuhri (Pejabat Kelompok Hamas Palestine) – Kompas, 10 Oktober 2009. Ia juga menambahkan, Obama hanya membuat janji-janji dan tidak memberikan kontribusi berarti bagi perdamaian dunia. “Ia tidak melakukan apa pun untuk memastikan keadilan bagi Arab dan dunia Muslim.”
- Sebuah “lelucon” memalukan. – Liaqat Baluch (Pemimpin Senior Jamaat e-Islami; sebuah partai Konservatif di Pakistan) – Kompas, 10 Oktober 2009.
- “Dia tidak layak menerima penghargaan ini. Semua masalah ini, Irak, Afganistan, belum dilaksanakan. Lelaki yang menyerukan perubahan belum mengubah apa pun.” – Issam al-Khazraji (Pekerja harian di Baghdad) – Kompas, 10 Oktober 2009.
- Penolakan nobel untuk Obama. – kelompok Taliban – Kompas, 10 Oktober 2009.
- “ Seorang presiden pada tahun pertamanya berkuasa dan belum memiliki prestasi secara internasional.” – Dan Balz (Pengamat Politik pada The Washington Post) – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Berkah yang campur-aduk. Ada jurang antara janji-janji ambisius, kata-katanya dan prestasi (yang dicapainya).” – The New York Times. – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Salah satu keputusan juri-juri Nobel yang paling mengejutkan yang pernah terjadi.” – Daily Telegraph. – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Sebuah penghargaan sepanjang hidup bagi seorang Obama yang masih pemula.” – Tribune, surat kabar India. – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Kemunafikan politik. Apa yang sudah dia lakukan sehingga ia mendapatkan penghargaan itu? Obama juga tidak berhasil menekan Israel untuk melucuti senjata-senjata nuklirnya.” – Al-Dustur, surat kabar Mesir. – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Terlalu dini. Dia belum berkontribusi sejauh ini. Dia hanya baru mau memulai untuk bertindak.” – Mantan Presiden Polandia, Lech Walesa, yang juga peraih Nobel Perdamaian tahun 1983. – Republika, 11 Oktober 2009.
- “Waktu yang tepat bagi penganugerahan ini (bagi Obama) adalah ketika pasukan asing pergi dari Irak dan Afganistan, dan ketika (dia) berdiri membela hak warga Palestina.” – Menlu Iran, Manoucher Mottaki. – Republika, 11 Oktober 2009.
Namun, tidak sedikit pula yg memujinya:
- “Hanya sangat sedikit orang yang seperti Obama berhasil meraih perhatian dunia begitu besar dan memberikan harapan orang untuk hidup lebih baik di masa depan. Kekuatan diplomasinya merupakan konsep bagi yang ingin mejani pemimpin, dengan perilaku dan nilai moral yang ditonjolkan. Obama menciptakan iklim baru dalam politik internasional. Diplomasi multilateral merupakan perhatian utamanya, dengan penakanan peran PBB dan institusi internasional lainnya.” – Ketua panitia Nobel. – Republika, 10 Oktober 2009.
- “Terima kasih atas inisiatif Obama. AS sekarang juga memainkan peranan yang lebih konstruktif dalam memenuhi tantangan besar perubahan iklim yang dihadapi dunia. Demokrasi dan hak-hak asasi manusia pun akan diperkuat.” – Komite Nobel Norwegia. – Kompas, 10 Oktober 2009.
- “Dalam kurang dari setahun di kantornya, ia telah mentransformasikan cara kita melihat diri sendiri dan dunia yang kita tinggali dan membangkitkan lagi harapan untuk sebuah dunia yang damai di dalamnya. Saya tidak isa memikirkan siapa pun hari ini yang lebih layak menerima penghargaan ini.” – Mohamed ElBaradei, Ketua Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). – Kompas, 10 Oktober 2009.
- “Karena Obama, yang perjalanan hidupnya secara simbolis mewakili tiga benua, suksesnya telah menjadi seperti sinonim dengan martabat dan harapan.” – Liberation, Surat Kabar Perancis. – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Sebuah penghargaan yang memberi dorongan.” – Beijing News. – Kompas, 11 Oktober 2009.
- “Harapan global terhadap pemerintahan Obama. Sebuah tugas penting bagi Obama untuk mewujudkannya dari sekarang.” – Yomiuri Shimbun. – Kompas, 11 Oktober 2009.
Kalo gw runut, alesan utama kenapa Obama terpilih, adalah karena visinya yang ingin melucuti senjata nuklir dari dunia. Well, kalo menurut gw, teknologi itu ibarat pedang bermata dua, tergantung siapa yg megang pedang tersebut. Nuklir selain untuk senjata, merupakan energi alternatif yg manfaatnya sangat besar (walaupun juga dengan resiko yg besar pula). Tapi mengingat visinya yg sangat mulia tersebut, apakah mungkin hanya dengan pelucutan senjata nuklir akan menciptakan dunia yg damai, yg bagi gw, itu semacam uthopia aja bagi Obama.
Visi yg dia gelontorkan, apakah sudah dilaksanakan? Disini pertanyaannya. Visi hanyalah sebuah omong kosong bila tidak ada misi-misi yg mengikutinya. Yg menjadi perdebatan adalah, apa yg telah Obama lakukan sehingga dia layak mendapatkan penghargaan prestisius tersebut. Bahkan, ketika dia hanya menjalankan pemerintahannya yang baru 12 hari, nama Obama sudah masuk dalam nominasi penerima nobel perdamaian. Terlihat dari sini, kalo gw menilai, ini hanyalah pengaguman terhadap seseorang dan tidak melihat karya nyata yg telah dia lakukan.
Jadi kesimpulan gw, penghargaan tersebut masih sangatlah PREMATUR untuk dia.






